siang itu gw terburu buru menuju stasiun untuk mengejar kereta ekonomi AC Bekasi-Kota,dan ternyata sia-sia karna ketinggalan.Ya sudah,kereta ekonomi menjadi pilihan terakhir saat itu (mau telat atau mau bersusah susah..). Bukan pertama kali memang tapi tetap saja naik kereta ekonomi membuat tidak nyaman.
Sebenarnya pemandangan di kereta ekonomi siang itu sudah jadi lumrah,tapi ga tau kenapa saat itu buat gw jadi sesuatu yang spesial. Sepasang suami istri mengamen hal yang lumrah bukan, tetapi jika mereka berdua mengamen dengan kondisi cacat?? mungkin di kereta itu sudah jadi pemandangan sehari hari tapi buat gw itu spesial.
Sepasang suami istri yang hidup dan saling mengenal hanya lewat hati bukan lewat bentuk fisik, hal itu yang terlintas di kepala gw saat itu. Bagaimana mereka saling bercerita hanya lewat suara tanpa ekspresi wajah..justru suara itulah yang berekspresi. Bagaimana mereka berjuang bersama menghadapi hidup dengan keterbatasan mereka. Hal lain yang menarik adalah kemauan mereka untuk mencari uang dengan cara mengamen dan menurut gw itu halal dibanding cuma mengemis. Pada saat mereka mengamen pun seakan akan mengatakan "kami di sini bukan karena kekurangan kami tapi karena usaha kami sendiri".
Sebuah bentuk cinta sejati ada dihadapan gw saat itu...cinta yang hanya memerlukan hati dan perasaan bukan fisik. Cinta yang apa adanya bukan karena ada apanya...sederhana dan dalam.
gw jadi ingat sebuah penggalan puisi :
Sebenarnya pemandangan di kereta ekonomi siang itu sudah jadi lumrah,tapi ga tau kenapa saat itu buat gw jadi sesuatu yang spesial. Sepasang suami istri mengamen hal yang lumrah bukan, tetapi jika mereka berdua mengamen dengan kondisi cacat?? mungkin di kereta itu sudah jadi pemandangan sehari hari tapi buat gw itu spesial.
Sepasang suami istri yang hidup dan saling mengenal hanya lewat hati bukan lewat bentuk fisik, hal itu yang terlintas di kepala gw saat itu. Bagaimana mereka saling bercerita hanya lewat suara tanpa ekspresi wajah..justru suara itulah yang berekspresi. Bagaimana mereka berjuang bersama menghadapi hidup dengan keterbatasan mereka. Hal lain yang menarik adalah kemauan mereka untuk mencari uang dengan cara mengamen dan menurut gw itu halal dibanding cuma mengemis. Pada saat mereka mengamen pun seakan akan mengatakan "kami di sini bukan karena kekurangan kami tapi karena usaha kami sendiri".
Sebuah bentuk cinta sejati ada dihadapan gw saat itu...cinta yang hanya memerlukan hati dan perasaan bukan fisik. Cinta yang apa adanya bukan karena ada apanya...sederhana dan dalam.
gw jadi ingat sebuah penggalan puisi :
"aku ingin mencintaimu..dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu..."
dengan kata yang tak sempat
diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu..."